Beranda > Berita > Dicari, Pemuda yang Belum Lihat Pornografi

Dicari, Pemuda yang Belum Lihat Pornografi

Tim peneliti di Kanada tidak bisa menemukan pria dewasa yang belum melihat gambar porno. Para peneliti di Universitas Montreal, Kanada, pernah mencoba melakukan studi dengan membandingan pemikiran pria berusia 20-an tahun yang tidak pernah terekspos pornografi dengan pria yang sering membuka-buka situs porno.

Sayangnya, upaya itu gagal dari awal karena mereka tidak bisa menemukan satupun pria yang belum pernah melihat atau membaca materi pornografi.

Tim peneliti itu akhirnya menduga, jangan-jangan semua pria 20-an tahun sudah melihat gambar atau film porno.

“Kami memulai penelitian kami dengan mencari pria berusia 20-an tahun yang belum pernah mengonsumsi pornografi,” kata Professor Simon Louis Lajeunesse, seperti dikutip dari laman harian The Telegraph, Rabu 2 Desember 2009. “Dan kami tidak menemukan satupun,” lanjutnya.

Tujuan asli penelitian kemudian dibelokkan. Para peneliti memutuskan untuk meneliti kebiasaan pria-pria muda pengguna pornografi tersebut.

Lajeunesse mewawancarai 20 pria heteroseksual, semua mahasiswa, yang mengonsumsi materi pornogarfi. Tim peneliti menemukan satu kesamaan dari objek penelitian, yakni bahwa mereka menonton video atau film porno untuk pertama kali pada usia 10 tahun.

Sekitar 90 persen materi porno diperoleh dari internet. Sedangkan 10 persennya dari toko-toko video.

Pria lajang menonton materi pornografi selama rata-rata 40 menit dan itu dilakukan tiga kali dalam satu pekan. Sementara pria yang sudah memiliki pasangan menontonnya rata-rata 1,7 kali kali selama satu pekan dengan durasi sekitar 20 menit.

Studi tersebut menemukan bahwa pria yang menyaksikan materi pornografi yang sesuai dengan citra mereka akan seksualitas, dan dengan segera menyisihkan materi pornografi yang menurut mereka berlebihan atau menjijikkan.

Prof Lajeunesse menegaskan bahwa pornografi tidak punya dampak negatif terhadap seksualitas pria. “Objek penelitian tidak memiliki riwayat penyakit seksual,” katanya. “Justru praktik seksual mereka sangat konvensional,” lanjut Prof Lajeunesse.

Menurutnya, pornografi tidak mengubah persepsi mereka terhadap perempuan yang menjadi pasangan mereka. “Pria hanya menginginkan hubungan yang harmonis dan saling melengkapi,” tambahnya.

• VIVAnews

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: