Beranda > Kisah Hikmah > Salahkah Mencari Calon Istri Sempurna?

Salahkah Mencari Calon Istri Sempurna?

Fenomena nikah muda di kalangan teman kampusnya dulu membuat Boy tak bisa menutup mata dan telinga. Usianya sudah akan menginjak kepala 3 dua tahun lagi.

“Lha, kamu kapan, Boy?”

“Ah, masih ada 2 tahun lagi, rasanya tak masalah,” elaknya ketika salah seorang teman bertanya padanya. Tapi ketika satu persatu undangan pernikahan sudah mulai berjatuhan di tangannya, berjatuhan pula hati Boy karena satu persatu calon istri impian yang ia cari sudah keduluan diambil orang. Huhuhu merananya si Boy.

Faktor kedua yang membuatnya tak bisa lagi menunda adalah karena orang tuanya yang sudah kepingin sekali menimang cucu. Faktor ketiga adalah karena adiknya yang perempuan pun sudah ingin menikah. Dan faktor keempat memang si Boy sudah mapan secara fisik maupun finansial.

“Jadi kamu tunggu apa lagi, Boy?” tanya ibunya suatu ketika. “Jangan sampai kamu nyesel nggak bisa ditemani ibu waktu akad nikahmu nanti, ya?” diancam begitu Boy siap siaga pasang kuda-kuda.

Ada benarnya juga omongan ibunya barusan. Umur manusia tak ada yang tahu. Tekadnya adalah segera menemukan tulang rusuknya yang masih terserak entah dimana.

“Tulang rusukku, semoga engkau masih belum diambil orang,” keluhnya.

Sore sepulang kerja, Boy silaturrahim ke rumah salah satu mentor ngajinya. Boy datang dengan tampilan super creepy. Rapi jali, wangi, membuat setiap orang yang berpapasan dengannya menoleh curiga.

“Mau ngelamar kerja, Kak?” goda salah satu temannya ketika berpapasan di jalan.

Sengaja ia berangkat dengan jalan kaki untuk menghilangkan nervousnya. Hmm, padahal belum ada calonnya, apalagi sudah ada calonnya. Setengah jam kemudian Boy sampai. Dan sesuai dengan janjinya, sang mentor sudah menunggu di ruang tamu bersama istrinya. Boy disambut dengan tatapan sedikit berlebihan dari sang istri.

“Assalamualaykum, Ustad,” sapa Boy.

“Waalaykumussalam, masuk Boy. Mari duduk,” Boy yang dipersilakan duduk sedikit lega karena berjalan terlalu jauh rupanya bikin kakinya kesemutan. “Jalan kaki?” tanya ustadnya sedikit heran tak melihat motor CBR Boy tak terparkir di halaman depan.

“Iya ustad, sekalian olahraga,” dan cuma disambut bunyi “oh” dari istri sang mentor.

“Langsung saja pada permasalahan pokokmu. Bawa biodata?”

“Bawa ustad,” Boy selembar menyerahkan amplop cokelat. Begitu ngerinya tatapan ustad dan istrinya ketika melihat kriteria calon istri yang diajukan oleh lelaki di depannya yang ngebet banget nikah ini. Tak kalah heboh reaksi sang istri yang akhirnya urung mengeluarkan tumpukan amplop di dalam tasnya yang berisi biodata muslimah yang akan ditawarkan karena merasa tidak rela mendapatkan suami yang banyak maunya seperti Boy.

“Boy, sudah pikir masak-masak bikin proposal ini?”

“Oh, pasti Ustad. Dengan pemikiran yang sangat mendalam. Memangnya kenapa ya ustad?” ujar Boy berapi-api.

“Gini, sampeyan punya 26 kriteria calon istri yang diajukan, mau cari dari jaman Nabi Muhammad, para shoohabiyah sampai sekarang pun semua kriteria itu nggak bakal ada.”

Boy menggaruk kepalanya yang tak gatal, “Itu hasil rembugan saya dan keluarga juga ustad,” katanya sambil nyengir.

“Baiklah, kita coba preteli satu-persatu. Milih dokter, kenapa? Sampeyan lagi sakit parah sehingga butuh dokter jadi istri buat nyembuhkan?”

“Bukan Ustad, kalau dokter kan pasti pinter. Dan saya pengin keturunan saya nanti pintar seperti ibunya. Kan katanya gen kecerdasan anak itu diturunkan dari ibunya, bukan begitu ustadzah?” yang ditanya malah geleng-geleng kepala.

“Seperti Bunda Khadijah?”

“Iya, Ustad,” tukasnya singkat.

Sang mentor menoleh kepada isterinya sambil tersenyum simpul, “Ada kalau mau, di sekitar rumah saya banyak janda. Sekiranya sampeyan mau dan berkenan dengan salah satunya, saya akan dengan sangat gembira,”

“Kok janda, Ustad?”

“Lha katanya sampeyan pingin seperti bunda Khadijah? Beliau kan janda, dek?” timpal istri ustad sedikit sewot. Sedangkan Boy bernapas berat. Satu langkahnya sudah mulai menemui kendala.

“Seperti bunda Aisyah, ya?”

“Yang itu lebih mudah kan, Ustad?”

Sang mentor kembali menoleh kepada isterinya, “Ada di sebelah rumah ini pas. Masih lajang, pinter, tapi judesnya naudzubillah kalau sama orang, mau?” cepat Boy menggeleng. “Kalau ingin yang kebaikannya seperti Bunda Khadijah dan Bunda Aisyah, sampeyan juga harus siap menerima segala kekurangannya.”

“Iya Ustad, saya minta maaf.”

“Yang berkacamata dan ikut organisasi tertentu? Kenapa begitu? Sahabiyah Rosulullah pun tak ada yang ikut organisasi selama beliau masih hidup, dan memang tidak ada,” ustad menambahkan, “Ini juga, kalau mau istrinya pake kacamata, tinggal dibelikan saja toh, gitu aja kok repot,” pernyataan tadi membuat Boy terpekur.

“Hmm, yang kulitnya putih, lehernya jenjang, kakinya panjang,” ustad sejenak melirik kepada istrinya, dan istrinya malah terkikik. “Insyaallah ada, rumahnya di belakang rumah saya. Sampeyan bisa pilih kalau suka.”

Berbinarlah mata si Boy, ya walaupun nggak dapat dokter, bunda Khadijah atau Bunda Aisyah, setidaknya yang sempurna fisiknya ia dapatkan untuk memperbaiki keturunannya, “Siapa dia Ustad?”

“Angsa peliharaan saya di belakang,” istri sang mentor yang tak bisa menahan tawa terbirit masuk ke dalam. Dan Boy pun kecewa.

Akhirnya sore itu Boy pulang dengan tangan hampa dan hati nelangsa karena ustad memintanya untuk merevisi proposal dan berdoa kepada Allah lewat istikharah agar dipermudah dalam menemukan jodoh yang diimpikan.

“Coba introspeksi diri sampeyan, bikin segini banyak kriteria kira-kira sampeyan sendiri sudah memenuhi kriteria itu belum? Atau jika tidak, sampeyan merasa sudah pantas belum mendapatkan bidadari seperti yang diinginkan? Dan kalau sudah ketemu yang sekiranya sampeyan cocok, kira-kira dia mau nggak menerima sampeyan?” TAJAM untuk Boy.

Note : pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini, bolehlah kita menginkan kriteria duniawi yang beragam, namun seorang istri yang bisa menjaga harta suami dan anak-anaknya ketika dia pergi, dan bisa menjadi menteri keuangan dalam sebuah rumah tangga, hanyalah isteri sholihah yang takut akan adzab Tuhannya jika tak patuh pada suaminya. Kecantikan dan kekayaan bisa hilang seiring dengan waktu, namun loyalitas hanya bisa dilihat dari kadar iman seseorang. Semoga agama menjadi pilihan utama dalam memilih pasangan kita kelak. Semoga bermaanfaat untuk pembaca.

“Katakanlah kepada laki-laki yang berima, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh Allah Maha Mengetahui Apa yang mereka perbuat” (QS. An-nur : 30)

Sumber:http://najwafahrini.blogdetik.com/2011/12/26/calon-istri-sempurna/

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: